Kajian Sifat Nutrisi, Fisik dan Sensori Daging Ayam KUB di Jawa Tengah

R. Hidayah, I. Ambarsari, Subiharta Subiharta

Abstract


Ayam KUB adalah ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian yang mempunyai produksi telur tinggi.  Produksi yang tinggi ini membuka peluang DOC ayam KUB untuk dikembangkan menjadi ayam potong. Hal ini dilakukan mengingat permintaan ayam kampung potong semakin hari semakin meningkat. Kajian lebih lanjut tentang sifat nutrisi, fisik dan sensori daging ayam KUB perlu dilakukan untuk  memberikan gambaran kepada masyarakat tentang kualitas daging ayam KUB.  Kajian ini bertujuan untuk memperoleh data/informasi tentang sifat nutrisi, fisik dan sensori daging ayam KUB di Jawa Tengah.  Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu daging ayam KUB, daging broiler, daging ayam kampung dan daging ayam pejantan. Sifat fisik meliputi nilai pH dan keempukan, sedangkan sifat nutrisi tercermin dari kadar air, protein dan lemak. Sampel diuji dengan uji sensori dengan melibatkan 30 panelis semi terlatih terhadap sifat sensori daging yang meliputi warna, tekstur serat, aroma, keempukan dan rasa. Data sifat fisik dan nutrisi disajikan secara deskriptif. Data uji sensori dianalisis dengan metode ANOVA dan jika terdapat perbedaan nyata maka akan dilanjutkan dengan uji DMRT.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging ayam KUB memiliki kandungan protein dan lemak yang lebih tinggi dibanding daging ayam lainnya. Secara fisik (keempukan), daging ayam KUB belum bisa menyerupai daging ayam kampung. Uji sensori menunjukkan bahwa dari segi aroma, keempukan dan rasa, keempat perlakuan dinilai sama oleh panelis. Warna daging ayam KUB pucat dan berbeda dengan daging yang lain yang memiliki warna putih dan menarik. Tekstur serat daging ayam KUB berserat sampai dengan berserat agak kasar sama dengan broiler dan ayam kampung. Ayam KUB berpeluang untuk dikembangkan sebagai ayam potong dengan perbaikan manajemen pakan dan pemeliharaan untuk memperbaiki warna daging.


Keywords


ayam KUB; daging; fisik; nutrisi; sensori

References


Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.

Agustina, K. K., A. A. G. O. Dharmayudha, I.B. N. Swacita dan L. M. Sudimartini. 2015. Analisis nilai gizi telur itik asin yang dibuat dengan media kulit buah manggis selama masa pemeraman. Buletin Veteriner Udayana. 7 (2) :121-128.

Bharoto, T. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. PT. Ghalia, Indonesia.

Budiman, B dan Rukmiasih. 2007. Karakteristik Putih Telur Itik Tegal. [Prosiding] Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Chung, R. A. and W. J. Stadelman. 1965. A study of variation in the structure of the hen’s egg. British Poult Sci. 6 (1): 277 – 282.

Cullison. A. E. and Roberts, L. 1987. Feeds and Feedings. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Dramendra. 2015. Analisa usaha itik petelur di desa bangun purba timur jaya kecamatan bangun purba kabupaten rokan hulu. Agrobisnis fakultas pertanian universitas pasir. Artikel Ilmiah.

Faiz, H., I. Thohari dan Purwadi. 2003. Pengaruh penambahan sari temulawak (Curcumaxanthorrhiza) terhadap total fenol, kadar garam, kadar lemak dan tekstur telur asin. Jurnal Peternakan. 24 (3): 38-42.

Fouad, A. M., D. Ruan, S. Wang., W. Chen., W. Xia. and C. Zheng. 2018. Nutritional requirements of meat type and egg type duck. Journal of Animal Science and Biotechnologi 9 (1) : 1-11.

Gumelar., A. P dan A. Rahmat. 2016. Potensi produksi telur itik di kelompok ternak itik putri mandiri kabupaten karawang jawa barat. Jurnal Ilmu Peternakan. 1(1):44-45.

Harper. 2001. Biokimia. Edisi 25. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Kaewmanee, T., S. Benjakul, and W. Vissesanguan. 2009. Cahnge in chemical composition, physical properties, and microstructure of duck egg as influenced by salting. Food Chemistry 112 (1): 560 – 569.

Kasmirah., D., Y. Fenita dan U. Santoso. 2013. Pengaruh penggunaan tepung daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap kadar kolesterol telur itik Mojosari (Anas javanica). Jurnal Sains Peternakan Indonesia. 8 (2): 4-9.

Mardalena. 2002. Pengaruh jenis alas kandang terhadap bobot karkas ayam broiler jantan. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan 5 (2): 89-94

Muchtadi, T. R. dan Sugiono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Fakultas Pangan dan Gizi. Ilmu Pertanian Bogor, Bogor.

Naim, R. 1992. Mekanisme deposito kolesterol dalam yolk. Poult Indonesia 143: 8.

Nugraha, F.S., M. Mufti dan H.S. Ibnu. 2013.Kualitas telur itik yang dipelihara secara terkurung basah dan kering di kabupaten cirebon. Junal Ilmu Peternakan. 1(2):726-732.

Nuraini, Sabrina, dan S. A. Latif. 2012. Penampilan dan kualitas telur puyuh yang diberi pakan mengandung produk frmentasi dengan Neuspora crassa.. Jurnal Peternakan Indonesia 14 (2): 385 – 391.

Prasetya, F. H., I. Setiawan dan D. Garnida. 2015. Karakteristik eksterior dan interior telur itik bali (kasus di kelompok ternak itik maniksari di dusun lepang, desa takmung kec.banjarangkan, kab. klungkung, provinsi bali). Jurnal Padjajaran. 4 (1): 1-8.

Rahman, M., M. J. Khan, D. Chowdury, and M. A. Akbar. 2010. Effect of feed supplementation on chemical composition of duck eggs in coastal areas of Bangladesh. Bng J. Anim Sci 39 (2): 163 – 169.

Saty, L., K. Praseno dan Kasiyati. 2014. Kadar kolesterol dan β-karoten telur itik dari beberapa lokasi budi daya itik di jawa. Jurnal ilmu peternakan. 22 (2): 56-63.

Sarworini, S. 2002. Pemeliharaan Ternak Itik Secara Intensif. Jurnal Peternakan. 6(2):22-26.

Sari, O., B. Priyono dan N. R. Utami. 2012.Suhu, Kelembaban, serta Produksi Telur Itik pada Kandang Tipe Litter dan Slat. Junal Peternakan. 1(2):15-22.

Scanes, C.G., G. Brant and M.E. Ensminger. 2004. Poultry Science. Fourth Edition.Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.

Sinurat, A. P. 2000. Penyusunan ransum ayam buras dan itik. Pelatihan proyek pengembangan agribisnis peternakan, Dinas Peternakan DKI Jakarta, 20 Juni 2000.

Subiharta, D. M. Y., A. Hermawan dan Hartono. 2006. Produktivitas itik Tegal di daerah sentra pengembangan pada pemeliharaan intensif. Jurnal Peternakan. 1(3):75-85.

Sudiyono dan Purwatri. 2007. Pengaruh penambahan enzim dalam ransum terhadap persentase karkas dan bagianbagian karkas itik lokal jantan. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. 32: 270- 277.

Suprijatna, E., Atmomarsono dan Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suryana. 2011. Karakterisasi fenotipik dan genetik itik alabio dan pemanfaatannya di kalimantan selatan secara berkelanjutan. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Susilorini, E. T. 2008. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Oloyede, O. 2006. A comparative study on the cholesterol content of product fractionated from egg yolk from some birds. Pakistan Journal of Nutrition 4 (6): 310 – 312.

Tumanggor, B. G., D. M. Suci dan S. Suharti. 2017. Kajian pemberian pakan pada itik dengan sistem pemeliharaan intensif dan semi intensif di peternakan rakyat. Buletin Makanan Ternak. 104 (1): 21-29.

Rohmah, N., E, Tugiyanti dan Roesdiyanto. 2016. Pengaruh tepung daun sirsak (Announa muricata L) dalam ransum terhadap bobot usus, pankreas, dan gizzard itik Tegal jantan. Agripet. 16 (2) :140-146.

Wulandari, D., Sunarno dan T.R. Saraswati. 2015. Perbedaan somatometri itik Tegal, itik magelang dan itik pengging. BIOMA. 17(2): 94-101.

Yuwanta, T. 2007. Telur dan Produksi Telur. UGM Press. Yogyakarta.




DOI: https://doi.org/10.25077/jpi.21.2.93-101.2019

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor

View My Stats

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Peternakan Indonesia (JPI) 

Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
Kampus Unand Limau Manis Padang-25163, Sumatera Barat, Indonesia.