Kualitas Fisik Kompos Feses Sapi Potong dan Kulit Kopi dengan Penambahan Aktivator Mol Bongkol Pisang dan EM4

T. Karyono, J. Laksono

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik kompos dalam campuran  feses sapi potong dan kulit kopi hasil pengomposan dengan penambahan aktivator MOL bongkol pisang dan EM 4 serta komposisi yang terbaik dari  aktivator MOL bonggol pisang dan EM4 hasil pengomposan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangaan, yaitu A1 = 25 ml MOL / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi), A2 = 30 ml MOL / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi), A3 = 35 ml MOL / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi), A4 = 25 ml EM4 / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi), A5 = 30 ml EM4 / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi), A6 = 35 ml EM4 / 5 kg bahan kompos (feses + kulit kopi). Karakteristik fisik dari kompos yang terdiri dari suhu, pH, bau/aroma, warna dan tekstur diteliti  dalam penelitian ini dan untuk  mengetahui  pengaruh  perlakuan, data yang diperoleh  dianalisis  dengan  analisa sidik  ragam  dan  uji lanjut BNJ. Hasil penelitian pengaruh penambahan aktivator dalam campuran feses sapi potong dan kulit kopi terhadap kualitas fisik kompos, menunjukkan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap suhu, pH, bau/aroma dan warna serta berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tekstur kompos. Dapat disimpulkan bahwa penambahan aktivator   MOL bongkol pisang dan EM4 pada bahan kompos feses sapi potong dan kulit kopi memberikan hasil tekstur yang terbaik pada perlakuan A6 (2,13) dan memberikan hasil yang sama baik terhadap sifat fisik: suhu, pH, bau/aroma, warna kompos.


Keywords


aktivator; feses sapi potong; kompos; kulit kopi

References


Baon, J. B., R. Sukasih, dan Nurkholis. 2005. Laju dekomposisi dan kualitas kompos limbah padat kopi: pengaruh aktivator dan bahan baku kompos. Pelita Perkebunan, 21 : 31-42.

Braun, R. 2007. Anaerobic Digestion: A Multi-Faceted Process For Energy, Environmental Management and Rural Development. Dalam Improvement of Crop Plants for Industrial End Uses. Editor P. Ranalli. Springer Netherlands.

Biro Pusat Statistik. 2011. Rilis hasil akhir pendataan sapi potong, sapi perah dan kerbau 2011. Kementrian Pertanian. Jakarta.

Biro Pusat Statistik Sumatera Selatan. 2014. Sumatera Selatan dalam angka 2013. BPS Provinsi Sumatera Selatan dan BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan.

Budi, N. W. 2015. Pengaruh Rasio C/N Bahan Baku Pada Pembuatan Kompos Dari Kubis Dan Kulit Pisang, Jurnal Integrasi Proses Vol. 5, No. 2, 77.

Farida, A., Sumiyati, S. dan Handayani, D. S. 2013. Studi perbandingan pengaruh penambahan aktivator agri simba dengan mol bongkol pisang terhadap kandungan unsur hara makro (cpnk) kompos dari blotong (sugarcane filter cake) dengan variasi penambahan kulit kopi. Jurnal teknik lingkungan 3 (1) : 1 – 11.

Higa, T and J. F. Parr. 1995. Beneficial and Effective Microorganisms for a Sustainable Agriculture and Environtment. Soil Microbiologist Agricultural Research Service, US. Department of Agriculture Beltsville. Maryland.

Isroi. 2009. Pupuk Organik Granul, Sebuah Petunjuk Paraktis, Peneliti pada Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.

Ismayana, A., Nastiti, S. I., Suprihatin., Maddu, A. dan Fredy. A. 2012. Faktor rasio C/N awal dan laju aerasi pada proses Co-Composting Bagasse dan blotong. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. 22 (3):173-179.

Djuarnani, N. dan B Setiawan. 2005. Cara cepat membuat kompos. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Kusuma, M. A. 2012. Pengaruh Variasi Kadar Air Terhadap Laju Dekomposisi Kompos Sampah Organik kota Depok. Tesis, Universitas Indonesia.

Kastalani. 2014. Pengaruh Tingkat konsentrasi dan lamanya Inkubasi EM4 terhadap kualitas Organoleptik pupuk Bokashi. Jurnal Ilmu tropika 3 (2) : 10 – 14.

Murbandono, H. S. L. 2002. Membuat Kompos. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Menteri Pertanian. 2010. Peraturan Menteri Pertanian No: 70/Permentan/SR.140/1 0/2011. Tentang pupuk organik.

Moses, B. B. O., A. Wibowo., Jati. B., B. Rahardjo Si. 2013. Penggunaan Mikroorganisme Bongkol Pisang (Musa paradisiaca) Sebagai Dekomposer Sampah Organik. Jurnal Teknobiologi Universitas AtmaJaya Yogyakarta .Vol (2): 7-10

Naumann, C. and R. Bassler. 1997. VCLUFA- Methodenbuch Band III, Die chemische Untersuchung von Futtermitteln. 3nd . Darmstadt, Germany.

Rifa’i, A. Mien. 2004. Kamus biologi. Cetakan ke-4. Balai Pustaka Jakarta.Halaman 11.

Standar Nasional Indonesia (SNI). 2010. Pupuk NPK padat. Standar Nasional Indonesia. Jakarta.

Sutanto R. 2002. Pertanian Organik , Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Turangga B. S. G., Bambang, D. A. dan Musthofa. L. 2014. Pemanfaatan limbah nangka (Artocarpus heterophyllus) pada proses pengomposan anaerob dengan menambahkan variasi konsentrasi EM4 (Effective Microorganisme) dan variasi bobot bulking agent. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 3 (2) : 141-147.

Wahyono, S. dan F. L. Sahwan. 2008. Dinamika Perubahan Temperatur dan Reduksi Volume Limbah Dalam Proses Pengomposan. Jurnal Tekenologi. Lingkungan 9 (3): 255-262. Issn 1441-318x.

Widawati S. 2005. Daya pacu aktivator fungi asal kebun biologi wamena terhadap kematangan hara kompos, serta jumlah mikroba pelarut fosfat dan penambat nitrogen.Jurnal Biodiversitas.V (6).4: 238-241.

Yuwono, D. 2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yuli, A. H., Eulis. T. M., Tb. Benito, A. K. dan Ellin. H. 2010. Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Kompos. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan 8 ( 6 ) : 299-303.




DOI: https://doi.org/10.25077/jpi.21.2.154-162.2019

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Visitor

View My Stats

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Peternakan Indonesia (JPI) 

Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
Kampus Unand Limau Manis Padang-25163, Sumatera Barat, Indonesia.